LURUS

          Dewasa ini banyak sekali orang berdalih atau mengatasnamakan Tuhan. Jika terjadi sesuatu mujizat pada hidupnya, maka akan dikatakan atas kuasa Tuhan. Namun sebaliknya, jika keburukan yang terjadi, kuasa kegelapan, roh jahat atau apapun itu, sedang menguasai dan bekerja. Kasihan Tuhan dan malaikatnya jika selalu dipersalahkan dan mengatasnamakan NamaNya untuk segala aktivitas dan masalah kita.

          Misalkan saja, kita malas belajar dan memilih bermain game atau sosmed pada saat akan ujian. Sementara ekspektasi kita besar akan hasil ujian ini. Jika tidak berhasil dalam ujian tersebut akan muncul jawaban, Tuhan tidak berkehendak. Seolah-olah kita mencoba membesarkan hati dengan mengatasnamakan kehendak Tuhan.

          Saya pernah menonton film series “Lucifer”. Bercerita tentang penguasa bawah sedang berlibur. Dia lelah untuk disalahkan atas semua kesalahan yang dilakukan manusia. Ya seperti aku bilang diatas, kuasa kegelapan sedang menguasai, roh jahat sedang bekerja di hidupku, kalimat-kalimat mistis yang kita gunakan untuk melakukan pembenaran atas kesalahan yang kita buat yang dilakukan secara sadar.


          Maksud ku dari tadi adalah, jika terjadi sesuatu dalam hidup kita, cobalah berfikir bijak dan logis. Jika kebaikan yang terjadi, bersyukurlah. Jika kekurangan yang terjadi, minta untuk menjadi kuat. Jika kita melakukan kejahatan atau dosa, jangan langsung mengatakan atas kuasa si jahat. Minta maaflah, kepada yang tersakiti dan pemilik semesta. 

Di Demo FPI, Strategi Marketing Baru.




Siapa yang tidak tau FPI? Salah satu organisasi besar di Indonesia, berbasis agama yang mampu membuat banyak orang geleng-geleng kepala melihat aksinya. Bukan aksinya tidak bermakna, hanya saja sering tidak sesuai dengan etika. Aku bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan agama tertentu, karena FPI berlabel Islam (Front Pembela Islam), tapi lebih kepada FPI itu sendiri karena banyak aksinya anarkis dan kadang tanpa alasan yang jelas.

Aku tidak mau berkomentar banyak soal FPI, karena akan menimbulkan pembahasan yang panjang. Menyangkut soal agama cuy… Di Indonesia, hal yang paling penting dari segala yang penting adalah agama. Kamu akan dipandang dan diagungkan, jika paham dan mengerti soal agama. Termasuk memutar, membalikkan, dan memlintir ayat-ayat surga. Halah, jadi panjang kan… Padahal aku dari awal tidak ingin membahas soal mereka sang pemilik kunci surga.

Yang menjadi perhatian ku adalah, aksi FPI saat demo meminta penutupan warung BPK (Babi Panggang Karo) di Deli Serdang, Sumatra Utara. Ini link beritanya: http://suarasumut.com/arsip/rumah-makan-bpk-fpi-tutup-atau-kami-bertindak/. Saat aku cari di mbah google, media yang meliput berita ini kebanyakan media lokal. Media nasional sekelas Kompas atau Tempo, ga ada tuh. Tapi urutan paling atas ketika aku mengetikkan “FPI” di google, yang keluar adalah “FPI BPK”.  Sebegitu popular ternyata aksi ini.

Menurut analisa ku yang tidak penting, berita ini bisa naik ke permukaan dan menjadi popular karena beberapa faktor berikut:
  1. FPI menyerang warung makan yang biasanya dihuni oleh orang Batak dimana populasi orang Batak banyak yang “Parbada”. Bagaikan membangunkan macan, “Kau usik aku, retak dada mu Lae!” mungkin begitu ungkapannya.
  2. Populasi Batak menyebar dari Sabang sampai Merauke. Banyak orang Batak yang ngehits di sosial media, bahkan banyak yang jadi seleb intagram. Dan karena Batak yang Parbada tadi, maka berita ini bisa cepat muncul ke permukaan karena postingan di sosial media, dan obrolan “baba to baba”. Ingat berita Sonya Depari atau Florence Sihombing kan? Batak mereka itu…
  3. Babi yang merupakan hewan tempat Yesus membuang setan saat menyembuhkan orang yang kesurupan menjadi sangat fenomenal karena ada yang mengharamkan, tetapi ada yang mencap sebagai makanan terenak didunia, dan daftar menu utama di surga.

Nah, dari ketiga analisa yang tidak penting diatas tadi, poin utama yang ingin kusampaikan tidak ada di salah satunya. Aku ingin membahas tentang strategi marketing BPK. Yah, strategi penjualan suatu produk sehingga dapat dikenal dan diminati oleh masyarakat banyak. Loh, bagaimana bisa? Aku akan menjelaskan dan menarik benang merah dari awal tulisan ku.

Bagi penduduk Indonesia yang berjumlah +/- 250 juta jiwa, BPK singkatan (Babi Panggang Karo) tidak terlalu familiar. Orang-orang lebih mengenal BPK (Badan Pengawas Keuangan) terutama setelah akhir-akhir ini banyak diperbincangkan untuk mengaudit keuangan para pejabat-pejabat. Di Indonesia, Babi sering sekali diucapkan sebagai hinaan atau sumpah serapah, bertemanan dengan Anjing, Tai, Asu, Jancuk, dsb.

Sementara itu, BPK adalah makanan tradisional khas Karo yang cukup terkenal di kalangan orang Batak, dan beberapa suku lain yang pernah merasakan kenikmatan dari BPK ini. Walaupun rasanya yang khas dan fenomenal, BPK tentu masih membutuhkan strategi pasar untuk bisa mendapatkan tempat di lidah masyarakat luas, tidak hanya suku Batak saja.

Hubungannya adalah, ketika warung makan BPK di demo, maka perhatian publik akan teralih dan mau ga mau akan penasaran dengan rasa BPK ini. Seperti apakah rasa BPK ini hingga FPI mau membuang waktu dan energinya untuk aksi menutup warung makan ini?

Untuk membuat iklan di media elektronik seperti TV atau radio, pasti membutuhkan biaya yang besar. Mau endorse seleb-seleb instagram, juga membutuhkan biaya. Apalagi kalau seleb instagramnya penuh drama seperti Awkarin, bisa-bisa bukannya ngiklanin, malah dibuat jadi Vlog penuh drama. Jadi, strategi marketing yang paling murah dan mujarab untuk mengiklankan produk kita adalah: dengan memancing FPI melakukan aksi boikot terhadap produk kita. Ga usah khawatir, masyarakat Indonesia sudah paham dan bisa menilai FPI itu seperti apa.

Sadar ga sadar, FPI kalah banyak dalam hal ini. BPK semakin popular dikalangan masyarakat, FPI semakin dicaci maki karena aksinya semakin tidak penting seperti organisasinya. Yang ada, orang-orang akan berteriak untuk membubarkan FPI. Mungkin FPI bisa membuka jasa endorse atau jasa layanan boikot/pelarangan untuk menaikkan rating produk. Lumayan, untuk memberi nasi bungkus kepada laskar-laskar yang sudah lelah turun ke jalan, daripada ga ada kerjaan.


Selamat lah untuk nande-nande pengusaha BPK di Sumatra Utara sana. Naik ratingnya ku lihat, ga perlu ngiklanin atau minta endorse untuk jualannya. Semoga dengan berkembangnya usaha BPK ini, kami di perantauan ini bisa mencicipi BPK yang benar-benar BPK, bukan babi yang dibuat ala-ala BPK tapi rasanya bukan BPK. (pag)

BNI Peduli Lingkungan


            Menyimpan uang agar aman adalah kemauan banyak orang. Jika dulu orang menyimpan uang dengan menyimpan di dalam rumah atau di dalam celengan, saat ini orang lebih memilih untuk menyimpan di Bank. Selain lebih aman, juga lebih mudah jika kita mengambil jika kita membutuhkan. Tidak harus membawa uang cash, cukup ke ATM (Automatic Teller Machine) dan mengambil sejumlah uang yang kita inginkan sesuai dengan isi tabungan kita.
            Perkenalanku dengan menabung adalah sedari dini saat usiaku masih belia dan belum terlalu mengenal uang. Orangtuaku memperkenalkan aku dengan celengan dan kemudian menyisihkan sedikit dari jajan dan ditabung didalam celengan. Jika tabungannya sudah banyak, kita bisa membeli sesuatu yang kita inginkan. Begitu pesan orangtuaku yang mengajarkan tentang pentingnya menabung sedari kecil.
            Beranjak remaja, aku tidak menggunakan celengan lagi. Orangtua memperkenalkanku menyimpan uang di Bank. Bapak menyarankan untuk menabung di BNI, karena syaratnya mudah dan ada tabungan khusus pelajar. Pada saat itu aku hanya memiliki buku tabungan, tidak memiliki kartu ATM. Orangtuaku khawatir, jika aku memiliki kartu ATM, akan kurang terkontrol untuk menarik tabungannya. Aku bangga karena sedari remaja sudah memiliki tabungan sendiri.
            Pada saat kuliah, kampusku UNDIP bekerjasama dengan BNI untuk membuat tabungan mahasiswa. Fungsinya, saat membayar uang kuliah bisa otomatis untuk autodebet dan sekaligus menjadi KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Wah, aku semakin menikmati sebagai nasabah BNI. Selain ATMnya mudah untuk didapat, potongan biaya admin perbulannya sangat sedikit. Cocok untuk kantong mahasiswa.
            Menjadi mahasiswa adalah suatu kebanggaan buat ku. Merasa sudah agak “dewasa” dan bisa menentukan keinginan sendiri tanpa harus mendapat banyak arahan dan intervensi dari orangtua. Pada saat menjadi mahasiswa aku aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Selain itu aku juga mencoba untuk berwirausaha. Tidak besar dan tidak memiliki penghasilan yang banyak, tapi cukuplah untuk menambah jajan dan tidak harus meminta dari orangtua.
            Dalam kegiatan sosial, aku aktif dalam berbagai organisasi. Dalam kegiatan lingkungan, aku memulai dari diri sendiri. Tidak banyak menggunakan kantong plastik dan kertas, tidak membuang sampah sembarangan dan menggunakan zat yang aman bagi lingkungan. Walaupun aku tidak bisa memperbaiki lingkungan kita yang semakin rusak, setidaknya aku tidak semakin merusaknya dan tetap menjaganya. Banyak hal sederhana yang kita lakukan, misalkan saja ketika berbelanja, kita bisa membawa kantong plastik sendiri. Selain itu, kita bisa memanfaatkan sisi kosong dari kertas bekas.
            Salah satu keresahanku dalam hal lingkungan adalah, penggunaan AC (Air Conditioner) di ATM. Kadang ACnya kelewat dingin, dan boros listrik menurutku. Selain itu, penggunaan kertas pada struk transaksi ATM. Kita tahu sendiri, untuk membuat kertas sering dilakukan penggundulan hutan. Sementara hutan adalah adalah tempat habitat hewan-hewan sekaligus menjaga kestabilan alam agar tidak terjadi banjir, longsor, kekeringan dan juga menjadi tempat pasokan Oksigen, zat yang kita gunakan untuk bernafas.
            Aku mulai tertarik ketika ATM BNI tidak selalu menggunakan kertas untuk tiap transaksi. Ketika melakukan penarikan yang kecil (misalkan jumlah Rp. 50.000 dan Rp. 20.000), maka ATM BNI tidak mengeluarkan struk. Tapi saldo terakhir akan ditampilkan di layar. Jika relative jumlahnya besar, maka akan ada pilihan ingin cetak struk atau tidak. Untuk transfer, tentu saja ada struknya karena sebagai bukti jika diperlukan.
            Hal sederhana ini sungguh sangat berpengaruh menurutku. Bayangkan, jumlah ATM BNI di seluruh Indonesia ada berapa (menurutku ATM BNI adalah yang paling mudah ditemukan di berbagai tempat) dan transaksi yang dilakukan perharinya bisa jutaan. Berapa pohon yang ditebang untuk kertas struk tersebut? Dari beberapa pengalaman, justru kertas struk sebagian besar akan dibuang kembali, dan akan jadi sampah. Merusak lingkungan juga bukan?
            Dengan kebijakan yang ditetapkan BNI seperti ini, aku sangat mengapresiasi BNI yang menjaga lingkungan. Bahkan aku belum pernah melihat bank lain yang memiliki kebijakan yang sama. Kertas struk akan terbuang percuma, lingkungan semakin tidak terjaga. Beberapa kali aku posting di sosial media untuk kebijakan ini. Aku sangat menggembar-gemborkan untuk selalu peduli lingkungan. Jangan gunakan struk ATM atau struk belanjaan mini market jika tidak terlalu dibutuhkan. Ada beberapa kawanku yang setuju dengan pendapatku ini, dan beralih ke BNI. Terutama untuk komunitas peduli lingkungan yang aku ikuti.
            Selain soal struk transaksi, aku juga mengetahui info bahwa BNI menerapkan sistem GO GREEN di lingkungan kerjanya. Untuk karyawan dan nasabahnya, BNI mengajak untuk mengajak menjaga lingkungannya. Secara internal, BNI meningkatkan kapasitas pengetahuan pegawainya dengan cara perilaku hidup hijau untuk pegawainya dan juga tindakan hemat energi. Pengetahuan ini bukan hanya untuk di lingkungan kerja BNI saja, tapi juga keseharian dari pegawainya. Aku dapat info ini dari temanku yang bekerja di BNI. Secara eksternal, BNI aktif dalam program-program peduli lingkungan, termasuk pemanfaatan energi lingkungan.       Untuk nasabahnya, BNI menyediakan produk dan layanan ritel yang mendorong gaya hidup hijau, seperti KPR Hijau, fitur adopsi orangutan dan penanaman pohon, serta layanan perbankan paperless (seperti yang aku jelaskan sebelumnya).
            Dengan fasilitas seperti ini, kita sebagai customer sudah bisa lebih bijak memilih dan menyikapinya. Karena usia bumi yang semakin renta, kita tidak bisa lagi seenaknya. Jika kita tidak bisa memperbaiki, setidaknya kita harus menjaga lingkungannya. Agar bumi bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi generasi penerus kita. Jika saya menjaga lingkungan dengan mendekat dan merapat atau menggunakan jasa kepada orang/lembaga yang juga peduli lingkungan, mungkin anda punya cara yang lain. Yang paling terpenting, mari kita bersama menjaga lingkungan kita. Salam Bijak Bestari..!!


Aku adalah Tinker Bell

          Dari kecil sangat menyukai cerita Disney. Jika dibandingkan, mungkin cerita kisah Bobo bisa menandinginya. Walaupun terkesan tomboy, tapi aku sangat menyukai penampilan Princess. Well, bukan aku yang menggunakannya. Aku hanya suka tokoh-tokoh princess yang anggun dan elegan. Aku sedikit tomboy tentunya.
          Tokoh Disney yang paling ku suka dari dulu, Kwik-Kwek-Kwak. Mereka sangat cerdas dan mandiri. Selain itu aku memang sangat menyukai anak kembar. Kalau filmnya, aku suka Frozen dan Tinker Bell. Wow! Hampir semua film Tinker Bell aku sudah menontonnya, dan lama-kelamaan aku mulai menyadari kalau aku seperti tokoh Tinker Bell. Karakter dan pembawaannya
          Tinker Bell adalah peri di dunia Pixie Hollow. Tink bertugas untuk menciptakan dan memperbaiki alat-alat di dunia Pixie Hollow, tentu saja Tink orang yang kreatif. Tink suka buat onar dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, namun disayangi banyak orang. Tink sedikit tomboy tapi masih menunjukkan sisi perempuannya, dan yang paling istimewa adalah, bajunya yang serba hijau.
          Aku paling suka hijau. Pernah setengah isi lemari ku serba hijau. Orang-orang mengatakan kalau aku sedikit tomboy. Tapi kalau disuruh memilih, aku lebih suka memakai dress daripada celana. Oke, kalau celana pendek aku suk, tapi kalau celana panjang, tidak! Aku suka buat onar? Hahahaha… mungkin keluargaku paham betul. Dari kecil aku dianggap paling suka menyusahkan. Pertanyaan banyak, rasa ingin tahu tinggi, dan kadan sedikit menyusahkan. Tapi tentu saja saja kreatif. Suka melihat barang-barang bekas yang bisa di berdayagunakan.

          Diantara semua tokoh Disney saat ini yang paling mendekati karakterku adalah Tinker Bell. Kalau kamu?

Aku dan Buku

Awal perjumpaan ku dengan buku, aku tidak tau persis kapan waktunya. Dilahirkan dengan kecerdasan yang (sedikit saja) diatas rata-rata, membuatku cepat membaca. Usia TK (3 – 4 tahun) aku sudah lancar membaca. Saat itu aku gemar sekali membaca buku-buku yang ada di sekolah ku. Pada umumnya buku yang berwarna-warni, memiliki gambar yang menarik. Usia SD, aku sudah melahap semua majalah langganan kakak-abangku. Saat itu kami berlangganan Bobo dan Donal Bebek. Biasanya aku membacanya di pojok rumah yang sepi, tanpa ada yang mengganggu. Saat itu jumlah majalah kami sudah lebih dari 1 lemari, aku bisa membacanya berkali-kali. Wajar ada beberapa cerita yang ku ingat sampai sekarang, misalkan saja salah satu cerpen/dongeng yang sangat menempel di kepalaku dengan istilahnya “Ting gegenting, perut ku sudah genting mau makan sudah lapar”.
            Selain majalah Bobo, aku juga suka membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap bacaan di bukunya, aku baca sampai habis. Tidak mengherankan jika pelajaran Bahasa Indonesia, aku seperti mengulang kembali apa yang sudah ku baca, karena memang semuanya sudah ku baca. Bukan hanya buku pelajaran ku, tapi juga buku abang dan kakak ku, atau kadang adik ku. Sekedar bernostalgia dengan bacaan-bacaan ku sebelumnya.
            Beranjak SMP, bacaan masih belum banyak berubah, Bobo dan Disney. Kebetulan rumah dekat dengan Gramedia Gajah Mada Medan, jadi kadang sering kesana untuk sekedar membaca buku-buku tentang Biografi. Yah, aku memang sedari kecil suka dengan Sejarah. Buku di Negara ini cukup mahal, jadi untuk membelinya harus mempunyai uang yang lebih. Bacaan yang berpengaruh dan sedikit merubah sudut pandangku adalah, aku membaca novel “Sidney Sheldon – Kincir Angin Para Dewa”. Novel berbau dewasa, tapi alur ceritanya tidak biasa menurut ku pada saat itu. Selain itu, aku juga membaca novel stensilan, milik anak kos kami. Diawali dengan rasa penasaran banyak novel stensilan dikamarnya. Aku coba membaca satu, dan keterusan untuk membaca yang lainnya. Tentu saja ini tanpa diketahui sang pemiliknya. Wah, ini yang paling parah menurutku. Tapi aku tak pernah berhenti untuk membacanya.
            Di SMA, Bapak masih saja berlangganan Bobo, bukan majalah remaja lainnya. Selain itu, Mama juga punya majalah ibu-ibu, misalkan saja Femina dan Kartini. Tentu saja itu sudah aku baca semuanya dan beberapa karya Mira W aku baca saat SMA. Isi perpustakaan juga sudah aku baca beberapa, yang paling aku ingat adalah “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk” yang setelah aku dewasa, ceritanya diangkat ke layar lebar. Koran juga tidak luput dari bacaanku, tapi aku biasanya tidak membaca soal Politik atau Ekonomi. Itu sangat membingungkan menurutku. Saat SMA aku juga menyukai buku Fisika, khususnya luar angkasa. Buku-buku pelajaran Fisika ku sangat sedikit menceritakan/menjelaskan tentang keinginanku. Lagi-lagi aku jalan ke Gramedia hanya untuk sekedar baca yang ingin ku tahu.
            Dirumah cenderung buku yang ada buku soal Ekonomi, karena kebetulan Bapak seorang guru Ekonomi dan dia juga pernah menulis buku pelajaran Ekonomi untuk SMA. Untuk membeli sebuah buku, aku perlu menabung dulu. Aku ingat, buku yang pertama ku beli adalah buku Harry Potter. Bapak sedikit marah karena menurutnya buku itu tidak terlalu bermanfaat.
            Pada saat kuliah, aku sudah punya uang jajan sendiri dan mau ga mau harus manage keuangan sendiri. Pernah pada suatu saat, buku Harry Potter baru saja luncur. Pada saat itu uang menipis, tapi sangat ingin beli. Dengan pikiran pendek, aku langsung ke Gramedia mempertaruhkan uang bulanan yang pas-pasan. Habis dari Gramedia, segera saja aku lahap tuh buku. Sehari semalam tidak keluar kosan hanya untuk menyelesaikan bacaannya. Bagaimana dengan makan? Aku ga akan ingat kalau bukan ibu warung depan kosan tidak mengingatkan. Selesai membaca bukunya, aku lirik buku Harry Potter seri-seri sebelumnya, dan lagi-lagi aku didalam kamar ga kemana-mana. Ga kuliah, ga hangout bareng teman. Selain itu aku juga sangat sulit dihubungi, sms ga di bales (pada saat itu masih bisa smsn saja, belum ada Whatsapp, BBM, Line atau lainnya) telepon ga diangkat, baik dari orangtua atau teman. Hampir seminggu aku “mendem” dikamar, hingga akhirnya sahabat ku Ridho datang ke kos dan mengajak ku keluar, makan katanya. Tanggapan Ridho pertama kali saat bertemu aku saat itu,”kuning kali muka mu, Ni. Uda ku duga kau pasti mengautis di kamar makanya ga keliatan dan ga bales sms”. Hahahaha… Itu bukan pertama dan terakhir ku lakukan. Sampai saat ini pun masih.
            Aku juga pernah beli buku loak di pasar. Dan itu pertama kalinya aku sadar kalau buku bagus juga banyak dijual bekas. Ga jarang aku borong bukunya, Doraemon dan Goosebumps yang paling sering aku borong. Karena untuk melengkapi serinya yang belum lengkap. Karena berkat beli di pasar loak inilah, koleksi buku ku menumpuk banyak. Jika diakumulasikan (yang tercecer dan yang lupa dikembalikan) mungkin ada 1 lemari besar.
            Selain berburu di pasar loak, aku juga suka berburu diskonan atau pameran buku. Biasanya harus sabaaaaaarrr banget kalau untuk cari buku bagus saat diskonan. Kadang aku juga dihadiahi buku oleh senior atau kerabat atau pada saat kegiatan seminar dan pernah juga dapat buku dari Gramedia karena menang lomba. Untuk kegiatan seminar, tidak semua buku yang ku baca, karena cenderung buku yang dibagikan adalah berbau motivasi. Aku paling tidak suka buku tentang motivasi dan sejenisnya. Menurutku itu hanya melambungkan angan ku saja, bukan mengajak ku berpetualang.
            Aku juga pernah membaca buku-buku mengenai Investasi. Ini ilmu yang sangat luar biasa menurutku diantara semua bacaanku. Referensi buku yang ku baca cukup banyak, dan waktunya juga tidak terbatas. Apa yang tidak ku sukai, menjadi sedikit ku pahami setelah memiliki kesempatan ini. Selain itu, aku juga mulai membaca buku filsafat dan politik. Yang belum aku sentuh sampai saat ini adalah buku mengenai hukum dan kedokteran. Ini bacaan cukup berat menurut ku.
            Dari semua jenis buku, aku lebih suka baca Novel (fiksi dan non fiksi) dan buku Sejarah. Untuk Sejarah, aku sangat menyukai Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia. Karena sejarah bangsa ini banyak yang ditutupi, makanya ketika “menemukan” hal baru, aku akan sangat bergairah. Biografi juga aku suka, Sukarno, Inggit Ganarsih dan Nelson Mandela adalah favoritku. Kegemaranku akan membaca, membuatku menjadi satu-satunya anggota keluarga ku yang menggunakan kacamata. Dulu aku sering membaca sambil tiduran dan dengan penerangan seadanya. Dan kalau sudah tertarik dengan 1 buku, maka akan dibaca sampai tuntas, dan mengesampingkan kepentingan lainnya. Wajar jika minus mata sampai 2,75 (saat ini Mei 2016).

            Membaca adalah kegemaranku, buku adalah alatnya. Berusaha untuk tetap bisa untuk membaca buku. Apa saja, bukan harus bacaan yang disuka. Karena melalui buku, kita bisa mengenal dunia. Dan melalui tulisan, kita bisa dikenal dunia (aku juga suka menulis, lain waktu aku akan bercerita bagaimana hubungan ku dengan dunia menulis). pag