Tampilkan postingan dengan label Tentang Arni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Arni. Tampilkan semua postingan

Cinta Pertama

Menurut banyak orang, cinta pertama tak akan pernah mati. Cinta pertama akan selalu dikenang, karena pada saat itulah orang pertama kali merasakan apa yang orang banyak katakan, cinta itu indah, cinta itu suci, telah menemukan belahan jiwanya, atau apalah yang biasa buat orang kasmaran dan bertingkah seperti orang bodoh.
          Cinta pertama bukan berarti pacar pertama, atau pacar terakhir. Tapi, bagaimana untuk pertama kali kau merasakan jatuh cinta. Bagaimana saat pertama kalinya kau memegang tangannya, darah mu berdesir deras. Atau, bagaimana saat pertama kalinya kau berciuman, jantungmu berasa mau copot karena kencangnya berdetak. Yah, walaupun memungkinkan kalau cinta pertamamu adalah pacar pertama atau terakhir.
          Cinta pertamaku, seorang pria tampan, tinggi dan sedikit pendiam. Bukan pacar pertama tentunya. Moment saat pegangan tangan pertama saja aku masih ingat sampai sekarang, padahal kenangan itu sudah berlalu sekitar 6 tahun lalu. Hal-hal yang dirasakan saat jatuh cinta, pertama kali ku rasakan saat bersamanya. Senyumnya, tawanya, bahkan suara nafasnya masih ku ingat jelas. He’s my first love.
          Hubungan kami pada saat itu jarak jauh. Aku di Semarang dan dia di Makassar, bertemu di Bogor. Tidak perlu waktu lama untuk buat kami saling tertarik. Aku suka dengan apa adanya, pemalunya, dan tentu saja jaimnya. Badannya yang tinggi, tidak terlalu berotot tapi cukup berisi. Sayang saja aku merasakan sedikit perhatiannya saat acara hampir usai. Kalau mungkin lebih awal, kami bisa punya waktu yang sedikit lebih lama untuk bersama.
          Pertemuan-pertemuan berikutnya sangat mengesankan. Saat terpisahkan oleh jarak, juga tetap berusaha untuk menjaga hubungan baik. Lewat telepon, sms, internet, bahkan dengan cara kuno, berkirim surat. Semakin hari terasa semakin sayang.        

Hubungan itu berakhir saat mulai terasa jenuh akan hubungan jarak jauh. Ada kebutuhan yang mendesak untuk mengakhiri hubungan itu. Sedih memang. Aku sampai tidak bisa melupakannya. Setiap ku menjalin hubungan baru, selalu teringat akannya. Mungkin itu kekuatan “cinta pertama”. Segala yang dilakukan pertama dan bersama akan sulit lepas dari ingatan (@arni_girsang).

Lorman Tua Girsang dan Bernike Ida Manurung

          Jika ada pasangan yang paling romantis sedunia, aku bisa katakan itu adalah kedua orangtuaku. Mungkin mereka memang sudah berjodoh. Di takdirkan Tuhan untuk selalu bersama. Dari mulai kelahiran dan kematian. Mereka selalu bersama dan saling menunggu. Mereka pasangan yang benar-benar pasangan.

Bapakku, dalam berbagai kesempatan dan moment

          Lorman Tua Girsang, Bapakku. Lahir dengan bakat musik dan humorisnya. Semua orang yang dekat dengannya pasti merasa terhibur. Parasnya tidak bisa dikatakan biasa saja. Dia menjadi salah satu idola di lingkungannya pada saat itu. Selain itu, dia juga ahli olah raga. Mungkin karena kebiasaan merokoknya, dia tidak terlalu kuat untuk melakukan aktivitas olah raga berlama-lama.
          Selain punya paras yang tampan, dia juga mempunyai jiwa yang bertanggungjawab. Pada saat usianya belasan tahun (mungkin sekitar 17-18 tahun), Bapaknya dipanggil Tuhan. Dia mempunyai adik 6 lagi. Mau tidak mau, beban keluarga dia tanggung bersama Ibunya. Karena didalam keluarga Batak, lelaki adalah penanggung jawab keluarga. Pada saat itu, dia  adalah satu-satunya anak laki-laki yang tidak pergi merantau. Alhasil, dia harus ikut banting tulang untuk menghidupi keluarga.
          Keluarga D.P Girsang bukan berasal dari keluarga tidak mampu. Tapi yang namanya pengusaha, kadang mengalami pasang surut dalam bisnisnya. Itu juga yang dialami Bapak saya pasca Bapaknya meninggal.

Arni dan Mama, disaat-saat terakhirnya


          Bernike Ida Manurung, Mamaku. Bisa dikatakan dia adalah “kembang desa”. Parasnya yang cantik, tinggi dan dengan lesung pipi menghiasi wajahnya, banyak kaum adam yang tertarik padanya. Ditambah dengan latar belakang keluarga yang berada.
          Mamaku termasuk orang yang cepat bergaul dengan siapa saja. Dia juga pintar bernyanyi. Pada saat muda, termasuk modis dalam berpakaian dibandingkan teman-teman sebayanya. Dia termasuk yang humoris, selalu menyukai hal-hal yang dapat menghibur diri.
          Kenapa aku katakan mereka berjodoh? Untuk tanggal kelahiran, mereka sangat dekat jaraknya. Bapak, 15 Desember 1959 dan Mama 31 Januari 1960, mereka dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Rumah mereka juga sangat berdekatan. Bedanya hanya 1 gang saja.
          Cinta mereka bersemi saat SMA. Dari cerita yang ku dengar, mereka berpacaran lebih dari 4 tahun. Keduanya adalah tipe pencemburu. Saat Bapak dekat dengan wanita lain, Mama pasti marah. Demikian juga  sebaliknya. Jadilah mereka menghabiskan waktu bersama agar mengurangi kecurigaan satu sama lain.

Keluarga Lorman Tua Girsang dan Bernike Ida Manurung
(atas dari kanan) Yenny, Ardo, Arni, Tere, Gio
(bawah dari kanan) Bapak dan Mama


          Mereka menikah pada tanggal 26 Juni 1981 di GKPS Sudirman. Dikaruniai 6 anak, 4 putri dan 2 putra. Yenny Mastiur Girsang (Yenny), Andi Girsang (Andi), Lihardo Girsang (Ardo), Pahlawarni Girsang (Arni), Theresiani Girsang (Tere) dan Giovanni Girsang (Gio). Namun, sebelum Ardo lahir, Tuhan lebih dahulu memanggil Andi.
Kenapa aku katakan mereka romantis? Dalam setiap rumah tangga, selalu ada pasang surut. Tapi mereka selalu melewati bersama dalam suka dan duka. Bagaimana mereka saling mensuport satu sama lain. Tidak terucap di bibir, tapi lewat perhatian dan pengertian. Aku suka tersenyum kalau ingat betapa mesranya mereka naik vespa berdua jika pergi Gereja.
Salah satu support yang dilakukan adalah, saat Bapak mengambil gelar sarjananya di Padang sekitar tahun 1995-1997. Mama langsung bertindak menjadi tulang punggung Keluarga. Dia menghidupi kami serta mengajari kami banyak hal. Pada saat itu adalah krisis bagi keluarga kami. Kami tidak bisa hidup hanya dari gaji seorang PNS Guru SMA. Biasanya Bapak mencari penghasilan tambahan lain.
Hal yang dilakukan Mama adalah, berjualan kangkung! Setiap hari kita ambil kangkung di ladang. Ambil-Ikat dan hitung hingga 100 ikat. Besoknya Mama akan jual ke pasar. Tapi hal itu dibuat Mama bukan menjadi derita buat kami. Setiap weekend dia buat acara seperti kumpul-kumpul untuk makan bersama, atau mandi di sungai sambil membawa bekal.
Ada hal romantis lain yang sangat kuingat. Saat itu akan ada hajatan, kita masak besar. Mama menitipkan kepada Bapak nasi yang sedang dimasak untuk diperhatikan jangan sampai gosong. Ternyata Bapak lalai. Jadilah sedikit keributan, sampai mama jengkel. Untuk meredam itu, Bapak peluk Mama dan minta maaf. Setelah itu mereka tertawa bersama.
Kenapa aku katakan mereka ditakdirkan untuk selalu bersama? Selain mereka dilahirkan dengan waktu yang berdekatan, mereka juga dipanggil dengan waktu yang berdekatan. Bapak dipanggil Tuhan lebih dahulu, 25 Oktober 2012. Sepertinya Mama tidak mau berpisah terlalu lama dengan Bapak. 7 Maret 2014 pun, dia segera menemui jodohnya. Kali ini, mereka merayakan ulang tahun pernikahan di surga.
          Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Mom... Dad... Kalian selalu ada dihatiku.
Miss u, Mom... Dad...

Love u, Mom... Dad... (arni girsang)

Mengunjungi makam orangtua sebelum kembali ke perantauan

Aku dan Sahabat Baruku.




Bermula dari ketemu di Salemba flat 10, kemudian saling add di Facebook,  saling Follow di Twitter, sampai tukeran nomer telepon. Kami sama-sama anggota GMKI dari berbagai cabang dan saling berkeluh kesah melalui social network. Itulah kami, Arni Girsang dari cabang Semarang, Jesicha Helena dari cabang Dumai, dan Henny Tampubolon dari cabang Medan. Yang kemudian muncul nama-nama yang tidak asing lagi, yang kadang sering muncul di aktivitas kami. Ada Witra Evelyn Sinaga dari cabang Medan, Dorty Manurung dari cabang Batam, Hannah Jasmin dari cabang Bandung, Boru Barat dari cabang Dumai, dan beberapa nama lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

Memang lucu kadang. Kadang ada yang bertanya, wah luar biasa sekali pertemanan kalian, dengan nada menyindir tentunya. Karna kalau dipikir, ga masuk akal jika 3 orang yang tidak pernah bertemu (Cuma aku dan Jesicha Helena yang pernah bertemu di Salemba) namun sudah sangat dekat. Tapi begitulah kami. Saling mengingatkan dan menghargai satu sama lain.

Apa yang sudah kami lakukan..?? kami melakukan banyak hal. Antara lain, merumuskan tingkat kebuayaan seorang pria. Mulai dari cicak, aligator, buaya, atau komodo mungkin. Karena kami pernah merasakan menjalani sedikit dari hidup kami bersama buaya. Terutama aku, dalam prinsipku, pria itu kalau bukan buaya ya homo. J
Kami juga menghidupkan grup Facebook, Perempuan GMKI (walaupun sekarang aku uda jarang parkir disitu). Awalnya grup ini Cuma tempat berkumpulnya Perempuan-perempuan GMKI setelah acara Pertemuan Nasional Perempuan GMKI di Malang tahun 2009, yang menjadi Admin Irish Mendrofa dari cabang Gunung Sitoli. Namun, aku sebagai aktivis social network, merasa sayang jika grup yang sudah dibuat harus hilang tanpa jejak. Aku mengajak teman-teman baruku, dan beberapa wanita dari cabang lain untuk bergabung didalam grup itu. Misinya sebagai wadah untuk bertegur sapa dan berkumpulnya serta diskusi teman-teman perempuan GMKI. Diskusi yang aku pengen buat sebenarnya isu kekerasan perempuan atau posisi perempuan di dalam GMKI itu sendiri. Namun, grup dan diskusi itu hanya berjalan sementara. Mungkin saja benara adanya kalau perempuan tidak terlalu suka diskusi, lebih senang menggosip. Heuheuheu...

Mungkin tidak ada hal penting yang sudah kami lakukan, tapi itu sudah merupakan hal penting saat ini menurutku, mengingat kami berada di 3 kota yang berbeda dan punya kesibukan masing-masing.
Klimaksnya, kita ketemu bertiga awal Juni lalu ketika Henny Tampubolon touring pulau Jawa. Waw, luar biasa sekali rasanya, seperti bertemu teman lama. Kami saling bertukar sapa, dan juga menggosip tentunya, J.  Sayang sekali Jesicha Helena tidak mengikuti semua kegiatan temu kangen ini.
Wah, semoga saja setelah ini bakal ada pertemuan-pertemuan berikutnya J.

Sahabat adalah kebutuhan Jiwa (Kahlil Gibran).


Sahabat



Sahabat..??

Apa itu sahabat?? 
Kadang aku juga suka salah dan keliru mengartikannya.

Mungkin ketika kita lama melalui hari-hari bisa dikatakan sahabat.
Atau, ketika kita merasa nyambung untuk melakukan sesuatu hal, atau cocok, bisa dikatakan sahabat.
Tapi bagiku, sahabat adalah yang mengerti kita dan selalu mengingatkan kita ketika kita salah.

Masa SD terlalu dini buatku mencari sahabat. Mungkin karena hidup dan sekolahku berpindah, aku hanya mempunyai teman karib saja. Sebut saja namanya Dewi. Teman dekat rumah, kemana2 kami selalu bersama walaupun aku lebih tua setahun. Ketika tamat SD, aku pindah ikut orang tua, hubungan kami pun terputus saat itu.

Masa SMP juga waktu yang dini untuk mencari sahabat. Cuma 2 tahun waktuku untuk menetap disekolah itu, hingga saatnya aku harus pindah sekolah lagi. Pada saat itu sedang musim yang namanya membentuk gank. Akupun ga mau ketinggalan. Kami ada 7. Sebut saja namanya, Olga, Mita, Oggie, Sari, Zulaiha, Aku dan Maya. Hmmm... Akupun harus berpisah dengan mereka ketika aku harus berpindah sekolah. Walaupun disekolah baruku aku mendapat teman baru, tetap saja mereka tetap menjadi teman semasa SMPku.

SMA mungkin sudah saatnya mencari sahabat. Tapi aku belum bisa mengatakan mereka sahabatku. Karena aku menghabiskan waktu cuma 3 tahun bersama mereka. Sebut saja namanya, Toibah, Devi, Mariani, Nervi. Wow... ntah dimana mereka sekarang..

Masa Kuliah adalah masa aku mengenal hidup dan aku menemukan sahabatku. Mungkin orang-orang tak melihat kami selalu bersama, tapi kami selalu merasa saling peduli. Terlalu berlebihan mungkin, tapi aku selalu ingat apa yang mereka perbuat untukku.
Berawal dari 1 jurusan, 1 angkatan dan sama-sama orang batak. Hahaha... jadi ingat saat kami masih awal semester dulu. Banyak hal konyol yang kami lakukan.

Benni Leo Simanjuntak
Mungkin dia uda ku anggap seperti abangku sendiri. Dia sanggup marahin aku ketika aku salah. Dia mengatasi segala emosiku dengan caranya yang luar biasa. Kadang bahkan mendiamkan aku.


Josep Rismanto Simanullang
Yang paling dewasa menurutku. Walaupun kami jarang berinteraksi, tapi kadang aku menerima hal-hal yang luar biasa dari perhatiannya. Tidak ditunjukkan langsung, tapi berkesan buatku.



Afrianto Tua Sinaga
Yang paling lembut menurutku. Dia mau sabar mendengar keluh kesahku. Dan solusinya pasti yang menenangkanku. Dia juga mengatasi emosiku dengan cara yang berbeda dengan yang lain. Diamkan dulu, baru ntar diingatkan.



Oksto Ridho Sianturi
Wah, ini yang paling luar biasa menurutku. Walaupun paling muda, dia punya pemikiran yang dewasa. Walaupun tak bisa, dia akan berusaha untuk membantu.


Sedikit berlebihan mungkin, tapi aku beranggapan, tidak perlu aku punya sejuta teman, dengan adanya mereka saja aku sudah tenang.

Semoga persahabatan kita tidak akan berakhir 
ketika kita sudah lulus dan punya hidup masing-masing.
Aku bangga punya sahabat seperti kalian.

Selamat Ulang Tahun Arniii...


Bertambah 1 tahun lagi usiaku.

Wow.. tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau sebelumnya aku ingin setiap orang yang kukenal mengucap selamat padaku, kali ini justru hanya aku yang ingin ingat ulang tahunku.
Dan ini merupakan Ulang Tahun paling special yang kurasakan. Aku bisa berkumpul dengan sahabat2ku. Yah, setelah -/+ 4 tahun kami tidak bisa utuh menjadi 1 bagian.

Wow.. aku ga bosen bilang wow...
Hal ini sudah kuimpikan sejak lama.
Kami bisa bersama lagi ber-5 (Josep, Benni, Arni, Afri, Ridho).
Mungkin karena ego masa muda kami dan kesibukan kami, membuat kami tertunda untuk bersama.
                     
Kado yang kudapatkan lagi adalah, aku ditawarkan untuk menjadi korwil IV GMKI. Disaat Ulang Tahunku..?? Dihubungi Ketum terpilih secara langsung..??
Wow...
Lagi-lagi aku Cuma bilang wow...

Keluarga D.P Girsang.







Mungkin untuk sedikit menyimpan sedikit kenangan untuk Keluarga besar kita, hingga nanti suatu saat ketika anak cucu kita bertanya, ada sedikit cerita yang akan kita ceritakan.
Keluarga D.P Girsang asal mulanya berasal dari Seribu Dolok. Konon katanya, Opung Dahamat datang ke Siantar berjalan kaki hingga berhari-hari. Asal mula ketemu Opung Lingga juga aku ga tau persis. Mungkin nanti kalau aku sudah mendapat data yang lengkap, judul ini akan aku lengkapi lagi.
Sedikit cerita yang kuketahui, ketika anak Opung D.P Girsang dengan B Br Lingga masih remaja, mereka mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Mereka banyak yang bersekolah di Jawa. Antara lain, UGM, Unsoed, dan Universitas swasta di Jawa. Dari anak pertama sampai paling kecil, hampir semuanya menjadi Sarjana. Keluarga Opung juga termasuk keluarga yang berada. Pada saat itu mereka mempunyai toko di Pasar Horas, Siantar. Mereka bergerak di bidang Konveksi dan termasuk maju pada saat itu. Mereka juga pernah mengalami masa yang sulit, saat toko mereka terbakar. Mereka harus memulai usaha mereka dari bawah lagi.
Aku belum pernah ketemu Opung D. P Girsang. Dari cerita orangtua, Opung meninggal pada saat Bou Risna (Anak paling kecil Opung) masih kecil. Cucu yang sempat melihat pun Cuma Bang Ganda dan Kak Onnie. Opung Lingga meninggal pada saat aku kelas 2 SMA. Mereka dimakamkan di Pemakaman di Siantar di Jalan Laguboti.

Berikut  silsilah dari keluarga D. P Girsang/B br Lingga.

Dahamat Purba Girsang/Bungariam br Lingga.
(Op. Deborah)

1. Rohani Girsang
- Marganda Tuah Saragih & Merista Siwi
  • Gabriel Gunung A. Saragih


2. Washinton Girsang - Marsaulide Lingga
- Debora Sari Dewi Girsang
- Dumaria Cynthia Dewi Girsang
- Dewi Julita Mahrani Girsang
- Azri Sohma  Dewita Rosinita Girsang
- Samuel Hotmatuah Girsang

3. Rasimah Girsang - Santun Hasiholan Manalu
- Chandra Tongam Junjungan  Manalu
- Lambok Paruntungan  Manalu
- Christy Kusuma Manalu
- Dian Fanaldi Manalu
- Joy Pangeranto Manalu

4. Johanson Girsang & Mersia Tampubolon
- Biony Marada Rohdearni Girsang
- Rudolf Josyanto Girsang
- Simtauli Magdalena Girsang - Luhut Siregar
  • Hugo Siregar

- Bona Alfred Girsang
- Ester Paulima Girsang

5. Simon Girsang - Murni Simanjuntak
- Citra Rezky Girsang - Jainal Samosir
- Oscar Girsang
- Nobel Girsang
- Thomas Girsang
- Guinnes Girsang

6. Lorman Tua Girsang - Bernike Ida  Manurung
- Yenny Mastiur Girsang-Joshua Sagala
- Lihardo  Girsang
- Pahlawarni Girsang
- Theresiani Girsang
- Giovanni Girsang

7. Robinson Girsang - Orbawaty Damanik
- Christian Sabda Girsang
- Lavinia Letare Girsang

8. Romianna Cinta Damai Girsang - Ramses Saragih sumbayak
- Rayanti Agustina Sumbayak - Junjungon Sianipar
  • Josua Sianipar

- Sabrina Juliana Sumbayak - Thomson Hutabarat
- Benny Sumbayak
- Metha Grace Sumbayak
- Bobby Sumbayak
- Liz Sarah Sumbayak

9. Sonti Riana Girsang - David Nainggolan
- Harry Jeplin Nainggolan
- Josephin Nainggolan
- Frans Natal Nainggolan
- Teresia Nainggolan

10.Riama Sonang
- Evalisa Elisabeth Sitohang - Heri Sopa
  • Christonius

- Marina elisabeth Sitohang
- Immanuel Sihotang
- Mangaraja Sihotang
- Amri

11.Larisna Uli Rio Rita Girsang - Roy Ronaldd Ecclesianus Naiola

Begitulah Keluarga besar D. P Girsang. Walaupun Opung kami sudah tidak ada, kami berusaha untuk mengadakan pertemuan agar kami tetap solid. Setiap tahun baru, diadakan kumpul dirumah anak Opung secara bergantian berurut. Sampai saat ini sudah sampai di anak ke-8. 


Mencintai Keluarga adalah Amanah Bagi Setiap Manusia.


Tak Kenal Maka Tak Sayang




Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak kenal. Hehehe... sedikit ngawur, namun kadang ngawur lebih mengarah ke apa adanya.
Namaku lengkapku Pahlawarni Girsang. Orang biasa memanggilku dengan sebutan ‘ARNI’. Kalau orangtuaku dulu memanggilku ‘WARNI’.
Waktu SMP aku lebih dikenal dengan panggilan ‘PEPENG’. Diambil dari pembawa acara warna-warni.


Yah, itu Cuma panggilan semasa kecilku.
Kalau orang mendengar namaku, pasti mereka berfikir aku lahir pas tanggal 10 November. Pas hari Pahlawan memang. Tapi aku lahirnya tanggal 10 Desember, pas Hari Hak Azasi Manusia. Karena namaku memang ga ada hubungan dengan Pahlawan. Namaku pemberian orangtuaku, beda dengan nama-nama saudaraku yang lain, pemberian kerabat kami. Ketika aku lahir, Bapakku lulus tes PNS. Dan itu penantian yang cukup lama dinanti. Hidup kami berubah setelah saat itu. Begitu cerita dari orangtuaku...
Pada saat aku lahir, calon Astronot perempuan yang batal meluncur ke antariksa bernama Pratiwi sedang jadi bahan pembicaraan. Menurut cerita Mamakku, aku sempat mau diberi nama Pratiwi.


Aku punya saudara yang punya nama dan arti yang berbeda denganku.


1    Yenny Mastiur Girsang
Yang memberikan nama Ompung perempuan dari Mamak. Katanya agar menjadi ‘terang’ dari kata ‘mastiur’.


2     Lihardo Girsang
Yang memberikan nama Ompung perempuan dari Bapak. Artinya juga ‘terang’ dari kata ‘lihar’.


3     Pahlawarni Girsang
Sudah dijelaskan tadi.


4    Theresiani Girsang
Yang memberikan nama bou Ganda. Kakak dari Bapak. Dikutip dari kata ‘seteres’. Mungkin orangtuaku mengalami kesulitan pada saat itu.


5    Giovanni Girsang
Yang memberikan nama Kian Robin (adik bungsu laki-laki Bapak). Diambil dari merk jam tangan. Ga tau maknanya apa, tapi namanya bagus.


Yang unik dari kami, kami dilahirkan hanya pada 2 tanggal, walaupun bulan dan tahun yang berbeda. Tanggal 10 dan tanggal 23. Aku dan Tere tanggal 10. Kak iyen, bg Ardo, Gio tanggal 23.


Yah, itulah tentangku.  Dengan segala keunikan yang kurasakan. Walaupun begitu,


 Keluargaku adalah yang terbaik yang kudapatkan saat ini.