Diposting oleh
Arni Girsang ,
Memiliki kehidupan memang sebuah anugrah.
Terutama jika bisa melihat, mendengar dan merasakan. Banyak yang bilang kalau
hidup ibarat roda pedati, kadang diatas dan kadang dibawah. Tapi, tidak semudah
dan sesederhana itu. Hidup bukan hanya sekedar kadang diatas ataupun dibawah
seperti roda. Roda bisa lepas dari pedati, lari dan mencari arah hingga
akhirnya berhenti. Sama halnya dengan hidup, kadang kita pernah lari dari arah
yang dituju dan kemudian capek hingga akhirnya berhenti. Akan ada yang
menyatukan roda tersebut bersama dengan rangkaian pedati lain, atau bahkan akan
dibuang karena sudah tidak layak pakai.
Aku capek, Tuhan..
Diposting oleh
Arni Girsang ,
Sederhana dalam berfikir, sederhana dalam
penampilan. Hal sederhana itu seringkali kita lupakan. Menjadi sederhana
sangatlah sederhana, tapi tak sesederhana yang kita bayangkan.
Banyak hal rumit yang seharusnya bisa
menjadi sederhana. Atau hal sederhana kita buat menjadi rumit. Kerumitan itu
penyebab utama keruwetan.
Mari belajar menjadi sederhana, untuk hidup
yang lebih sederhana dan berdampak bahagia.(pag)
Diposting oleh
Arni Girsang ,
RESUME
BUKU
Judul : GURU DI ATAS GARIS
Fondasi
Menuju Revolusi Mental yang Sesunguhnya
Karya : Sabam Sopian Silaban
Editor : Kun Herrini
Desain Cover : Jigori
Studio
Penyelaras Isi : Scrittoscript
Penerbit : Scritto
Books Publisher
Condongcatur,
Depok, Sleman, Yogyakarta
Telp.: 0274-6411879
ISBN : 978-602-1659-52-6
Guru di Atas Garis
Fondasi Menuju Revolusi Mental yang Sesungguhnya
Sabam Sopian Silaban
xii+182hlm; 14 x 21 cm
Scritto Books Publisher, 2015
GURU DI ATAS GARIS
Fondasi Menuju Revolusi Mental yang
Sesunguhnya
Berawal dari
terbitnya buku Siswa di Atas Garis, keinginan untuk menulis Guru di Atas Garis
menjadi tantangan tersendiri bagi penulis. Bagaimanapun untuk melahirkan Siswa
di Atas Garis sebaiknya dari Rahim Guru di Atas Garis. Interaksi-interaksi yang
terjadi dan terjalin dengan para pelajar di Indonesia dan para guru, baik guru
formal maupun guru nonformal memberi wawasan tersendiri bagi saya. Debat-debit
tentang ujian nasional, diskusi tentang situasi pendidikan. Curhatan beberapa
guru tentang “protes orangtua” terhadap sikap guru menangani murid. Juga
kegelisahan beberapa teman yang tak kunjung jadi PNS. Dan cerita minimnya gaji
yangdiperoleh adik saya sebagai guru. Serta pengalaman secara langsung
berhadapan dengan guru-guru di sekolah dan lembaga yang saya rintis. Memberikan
pemahaman tersendiri. Betapa guru itu sebuah profesi yang agung. Guru itu
sebuah tugas mahamulia.
Minimnya
motivasi sebagian besar siswa untuk meraih nilai terbaik dari pembelajaran yang
dimiliki membutuhkan guru-guru yang mampu memotivasi dan memiliki gairah
mengajar tak kunjung habis. Sudah saatnya para murid menghargai proses
(meninggalkan cara-cara belajar instan). Demikian halnya para inspiratornya, guru.
Jargon Revolusi Mental,
perlu dipandang sebagai sebuah visi menjadi apa. Dibutuhkan butir-butir
pencerahan terhadap revolusi mental tersebut. Dan tidak sekadar menjadi apa
tetapi membuat apa.
Guru, sebagai
garda terdepan kedua setelah orangtua menjadi pribadi dan tim yang perlu
memiliki butir-butir pencerahan itu. Betapa uang sangat penting. Tetapi masih
ada yang lebih penting daripada uang tersebut. Yaitu, fondasi yang tepat,
benar, dan baik untuk medapatkan uang tersebut. Guru perlu mendapat penghasilan
yang besar, tetapi yang lebih penting dengan menciptakan apa untuk memperoleh
penghasilan yang besar tersebut.
Kekuatan
pikiran yang besar akan melahirkan pribadi pemimpi besar dan ambisi. Itu bagus.
Dan kekuatan pikiran yang besar dipadu dengan kekuatan hati akan menjadikan
insan yang mampu bermimpi besar dan ulet. Namun jika tidak diikuti kekuatan
fisik, akan serba tanggung.
Buku Guru di
Atas Garis memberikan, lebih tepatnya mengingatkan kembali hakikat sebagai
guru. Diawali dengan Bab 1 Impian lalu dilanjut dengan Otak Guru Hebat dan disambung
dengan bab 3 mengukir Prestasi. Pada Bab 4 terdapat kesadaran yaitu Guru
sebagai Pemimpin dikuti dengan Bab Model & Menghebatkan serta Bab 6 toleran
dan Bab 7 Bertahan dan Move On. Sementaara di
Bab 9 para pembaca disuguhkan tentang Guru Penulis Murid Pencatat, dan
Bab 10 gunakan Gaya Belajar sebagai bagian dari inovatif dilanjutkan dengan Bab
11 Guru itu Seorang pembicara dan Bab 12 tentang Kreatif lalu Bab 13 Uang,
mendapat Lebih. Pada Bab 14 terdapat ide judul buku Guru di Atas Garis dengan
Judul besarnya Abnormal. Bab pamungkas adalah terakhir, guru Sukses.
Buku ini mengajak
merenungkan kembali makna panggilan sebagai pengajar. Menjadi guru seindahnya
memiliki impian yang jauh lebih besar daripada murid. Dia pencerah yang tak
habis akal alias kreatif. Guru menjadi insan terdepan dalam pemanfaatan otak
dan pemaaf yang luarbiasa. Guru di Atas Garis menawarkan sebuah konsep dasar
menuju revolusi mental. Konsep tersebut adalah Membangun Kesadaran Menciptakan
Keteladanan. Melalui 3 bab tentang kekuatan akan mengantar kepada
bab-bab kesadaran dan akhirnya terciptalah keteladan melalui perpaduan 5 bab
pengetahuan.
Sebaiknya
Bapak/ibu membaca bagian-bagian yang sengaja dikosongkan untuk diisi.Semoga
buku ini menjadi salah satu pemotivasi dan penyemangat bagi para pencipta
sekaligus generasi penerus Indonesia. Segera akan tercipta Indonesia yang kuat
dan hebat pada masa mendatang. Bermental kuat, memiliki asih, asuh, dan asah
yang kuat pula.
Diposting oleh
Arni Girsang ,
Label:
Bernike Ida Manurung
,
Girsang
,
Lorman Tua Girsang
,
Pahlawarni Girsang
Apa
kabar Mom, Dad?
Disini aku merindukan kalian. Sepi
rasanya tanpa kehadiran kalian. Ga ada lagi yang mengingatkanku untuk selalu
rajin berdoa, gereja, makan, belajar. Ga ada lagi yang mendengarkan ceritaku
saat ku berbeban berat. Dan yang paling terasa, ga ada lagi yang mengucapkan
namaku di setiap doanya.
Aku rindu masa kecilku Ma, Pak.
Dimana aku bisa selalu bermanja, mengingatkanku disaat ku salah, memarahiku
saat aku bermain terlalu banyak. Tau kah kalian aku sangat merindukan kalian?
Saat kalian satu-persatu pergi meninggalkan kami, hati ini hancur. Tapi aku
berusaha kuat, meyakinkan aku baik-baik saja, berharap kita bisa bertemu
secepat mungkin.
Maafkan aku Ma, terlalu sering
menyakiti hatimu. Belum bisa menjadi Warni-mu yang kau banggakan. Terimakasih
karena waktu aku kecil kau selalu bela aku disaat aku berantem dengan teman
sepermainanku, bahkan saat aku bertengkar dengan kakakku. Terimakasih Ma, kau
dengan sabar menghadapiku yang sangat keras kepala, bahkan disaatku dewasa pun.
Aku rindu, Ma. Rindu saat kau
mencari kutu ku sampai aku tertidur dipangkuanmu. Rindu saat aku tiap siang
melempar jambu dari depan rumah kita. Katamu kau hanya bisa makan jambu yang
sudah matang dan agak lembek saja. Rindu dengan soto mu. Sampai saat ini aku
tidak doyan soto, tapi aku sangat rindu soto buatanmu, Ma. Rindu dengan
senyumanmu, lesung pipi ini darimu.
Maafkan aku Pak, terlalu sering
mengecewakanmu. Aku belum bisa memenuhi banyak harapanmu, aku belum bisa
menjadi nomer 1. Terimakasih karena begitu sabar menghadapi salahku.
Terimakasih karena sudah mengajarkan kami arti pentingnya kejujuran, bukan
hanya lewat kata-katamu namun perbuatanmu.
Kenapa Bapak sudah jarang datang ke
mimpiku? Kenapa Mamak belum pernah singgah ke mimpiku? Aku merindukan kalian,
walaupun bertemu hanya lewat mimpi. Seandainya waktu bisa berputar, aku akan
berusaha membuat kalian bahagia. Tenang di Surga karena kalian tidak lagi
pusing mikirin anak keras kepala seperti Warni kalian J. Tapi aku akan berusaha melakukan
yang terbaik untuk kalian, dan milikku yang paling berharga.
Langganan:
Postingan (Atom)

