Chenle








Walldecor KPOP
Pemesanan WA: 081394258708





Chanyeol

Walldecor Chanyeol

Pemesanan WA: 081394258708






















P

Review film – Cart (2014)




            Awalnya sih nyari film yang dibintangi oleh D.O Kyungsoo – EXO (bias ku di EXO adalah D.O – fans pemula), eh tapi ngerasa film ini bagus, ada pesan moralnya karena mengangkat masalah sosial. Film ini menceritakan seorang perempuan bernama Sun Hee, ibu dari 2 anak, Choi Tae Young (D.O Kyungsoo) dan adik perempuannya. Sun Hee bekerja di sebuah supermarket selama lebih dari 5 tahun. Selama bekerja, status Sun Hee hanya sebagai karyawan kontrak walaupun Sun Hee sudah bekerja keras hingga lembur (uang lembur pun tidak diberikan oleh perusahaan).
            Konflik pun dimulai ketika direktur perusahaan memutuskan untuk memutuskan kontrak kepada sebagian besar karyawan dikarenakan pemotongan anggaran. Sun Hee menjadi salah satu dari sekian banyak karyawan yang kontraknya diputus. Sun Hee bingung ketika dihadapkan dengan kebutuhan yang banyak dan akan kehilangan pekerjaan, belum lagi Tae Young membutuhkan biaya untuk darmawisata sekolah sebagai syarat kelulusan.
            Awalnya Hye Mi seorang karyawan juga yang bekerja di bagian kasir sama seperti Sun Hee bersama Soon Rye seorang petugas kebersihan, membuat gagasan untuk dapat berdialog dengan pimpinan perusahaan. Maka dibentuklah serikat buruh diantara karyawan kontrak, dengan Hye Mi, Soon Rye dan Sun Hee sebagai pemimpinnya. Sun Hee awalnya ragu, karena merasa tidak berpengalaman dalam hal tersebut, namun atas desakan rekan-rekannya, Sun Hee bersedia menjadi pemimpin.
            Pemimpin perusahaan menolak untuk berdialog dengan pemimpin serikat buruh di perusahaan tersebut. Serikat buruh akhirnya melakukan aksi mogok kerja hingga akhirnya menduduki supermarket dan melakukan aktivitas sehari-hari di dalam supermarket (makan, memasak, tidur dan berbincang). Mereka saling berbagi atas keluh kesah selama bekerja. Ada juga yang mengeluhkan, mereka harus bekerja harus dengan riasan dan tampil menarik. Atas aksi serikat buruh ini, perusahaan mengaku kepada media bahwa mereka rugi hingga milyaran. Dan berita ini dibesar-besarkan, hingga membuat opini masyarakat bahwa aksi dari serikat buruh tersebut memberikan dampak yang negatif.
            Tidak hanya sampai disitu, perusahaan juga memanggil aparat keamanan untuk segera mengamankan serikat buruh yang berunjuk rasa. Padahal mereka semuanya perempuan, tetapi dihadapi dengan sejumlah aparat yang bersenjata lengkap.
            Konflik tidak hanya sampai disitu. Ternyata untuk karyawan tidak tetap, terjadi pemotongan gaji dan perubahan status dari karyawan tetap menjadi tidak tetap. Tentu saja tanpa melalui prosedur dan mekanisme dari peraturan yang berlaku. Serikat buruh dari karyawan tidak tetap sepakat untuk bergabung dengan serikat buruh karyawan tetap. Mereka melakukan aksi didepan supermarket, dengan mengajak serta masyarakat. Serikat buruh ini menjadi goyah saat ada berbagai masalah timbul dari keluarga masing-masing. Beberapa memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, dan ada juga yang memutuskan untuk menerima kompensasi dari perusahaan. Walaupun mereka mengalami banyak kesulitan, pada akhir film ini mereka kembali berjuang bersama-sama untuk memperjuangkan hak mereka.
Disini diceritak juga bahwa D.O harus bekerja paruh waktu sepulang sekolah untuk dapat membayar biaya darmawisatanya. Saat akan menerima gaji, D.O juga diperlakukan tidak adil dengan tidak memberikan gaji sesuai dengan kesepakatan awal. D.O akhirnya melakukan perlawanan hingga akhirnya dia dipukuli oleh pemilik toko dan membawanya ke kantor polisi. Ibu D.O akhirnya memberikan pembelaan terhadap anaknya, dan akhirnya pemilik toko memberikan gaji sesuai dengan kesepakatan.
            Film ini memang sarat akan isu sosial yang diangkat ke dalam film. Kemungkinan besar banyak anak muda menontonnya karena keberadaan D.O yang sedang menguji kemampuan aktingnya setelah sukses mendapat peran di It’s Okat That’s Love. D.O sendiri adalah salah satu personil EXO yang memiliki fans cukup banyak, dan fans korea terkenal sangat fanatic dan kadang sakit jiwa menurut ku.
            Yang menarik bagiku (selain dengan kehadiran D.O) adalah, tidak banyak film korea yang mengangkat isu sosial, cenderung mengangkat cerita cinta dengan menonjolkan kesempurnaan fisik mereka. Selain itu, hak-hak dari pekerja yang tidak dipenuhi oleh perusahaan. Aku teringat perkataan temanku, “Pemilik perusahaan itu tidak akan jatuh miskin saat memenuhi hak dari karyawannya”.
           Orang-orang kecil memang sering menjadi pegawai yang kadang hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk itu, seringkali pimpinan melakukan tindakan seenaknya yang menguntungkan pribadinya dan mengabaikan kesejahteraan karyawannya. Khususnya kepada karyawan perempuan yang terlihat lemah dan menerima keputusan begitu saja. Walaupun sudah diatur oleh undang-undang, tetap saja pemimpin perusahaan memanfaatkan ketidaktahuan karyawannya. Jika karyawan melakukan perlawanan, maka menempuh jalur hukum sebagai tindakan anarkis dan membuat rugi adalah solusinya. Buruh memang selalu dalam kondisi serba salah.

            Aku suka film ini karena D.O, eh bukan, karena alur ceritanya yang tidak biasa. Dari sini kita belajar untuk tetap berjuang untuk mendapatkan hak kita dan perlakuan tidak adil yang diberikan oleh perusahaan di tempat kita bekerja. Kita juga bisa belajar bagaimana proses mengadvokasi tindakan tidak adil tersebut. Akhir kata, saranghae D.O….

Penguasaan Diri

Baru-baru ini aku mengalami peristiwa besar. Peristiwa dimana aku tidak mendapatkan yang aku inginkan, yang aku impikan, yang aku cita-citakan. Peristiwa yang tidak dapat ku capai karena tidak ada dukungan. Hal yang diluar akal ku, dimana aku berfikir jika orang-orang di sekitarku juga mengasihiku seperti aku mengasihi mereka. Entahlah, mungkin aku salah berharap.
Aku merasa minder setelahnya, aku tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang, baik di dunia nyata atau media sosial. Aku memilih mengurung diri di kamar ku yang nyaman, menikmati aku yang sendiri dan menyepi. Ingin berbagi, rasanya tidak akan ada yang bisa memahami. Pasti yang kudapatkan hanya keprihatinan. Seperti kebanyakan orang-orang alami.
Satu hal yang ku pelajari dari peristiwa ini adalah, “pengendalian diri”. Jika kita diajarkan di Alkitab bahwa adanya buah roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri. Hal paling akhir adalah penguasaan diri, suatu hal yang sering sekali ku abaikan. Beberapa kali aku berfikir, penguasaan diri adalah hal yang tidak sulit dilakukan, jadi tidak untuk diseriusin. Aku merasa bahagia, dan tidak perlu pengendalian diri.
Pengendalian diri menjadi suatu hal yang penting. Ketika kita menginginkan sesuatu, kita akan berusaha mati-matian untuk mencapainya. Banyak orang yang melakukan berbagai cara, baik dengan cara yang wajar atau diluar akal sehat. Hasilnya? Banyak yang puas dan ada yang menyesal. Kita terlalu memaksakan apa yang kita inginkan, walaupun kita tau hal tersebut tidak terlalu baik untuk kita. Demi suatu hasrat dan harga diri.
Persetan dengan harga diri. Saat ini banyak orang yang tidak memiliki harga diri, didukung oleh hasrat yang tidak akan puas untuk dipenuhi. Harga diri dikorbankan, tetapi gaya hidup dijunjung tinggi. Tidak seimbang. Penguasaan diri berhubungan dengan harga diri. Toh saat ini orang banyak yang “cerdas” yang mampu menilai. Lagian, banyak juga orang yang tidak terlalu acuh dengan apa yang terjadi dengan hidup mu.
Disaat mimpi ku tak tercapai, aku bercerita dengan keluarga ku. Mereka mengerti, mereka paham, mereka menghibur, mereka mencari solusi. Aku merasa tidak terlalu jauh dan rendah diri. Yang perlu ku lakukan adalah berbenah hati, walaupun sebenarnya sedang males untuk beres-beres. Untuk bisa menerima hasil dengan lapang dada adalah, dengan cara penguasaan diri. Kita bisa memaafkan orang lain, khususnya diri kita sendiri. Melupakan penyesalan yang mungkin akan berpengaruh dengan cara pandang mu.
Saat ini aku sudah bisa tersenyum dan menerima apapun yang terjadi sebelumnya. Aku sudah bisa bertemu dengan orang-orang yang telah membuat keputusan yang salah. Aku memaafkannya, tapi aku belum bisa melupakannya. Penguasaan diri dibutuhkan untuk jangka panjang. Aku tidak ingin disaat aku mampu, aku akan meminta mereka untuk memperbaiki hal yang sudah berlalu. Padahal aku sendiri tau, hal yang tidak bisa diulangi adalah waktu.
Semoga dengan menuliskan yang terjadi sebelumnya, bisa menjadi bagian dari penguasaan diri. Hati lebih bersih, kepala menjadi kosong. Memaafkan dan tidak untuk mendendam. Semoga.

LURUS

          Dewasa ini banyak sekali orang berdalih atau mengatasnamakan Tuhan. Jika terjadi sesuatu mujizat pada hidupnya, maka akan dikatakan atas kuasa Tuhan. Namun sebaliknya, jika keburukan yang terjadi, kuasa kegelapan, roh jahat atau apapun itu, sedang menguasai dan bekerja. Kasihan Tuhan dan malaikatnya jika selalu dipersalahkan dan mengatasnamakan NamaNya untuk segala aktivitas dan masalah kita.

          Misalkan saja, kita malas belajar dan memilih bermain game atau sosmed pada saat akan ujian. Sementara ekspektasi kita besar akan hasil ujian ini. Jika tidak berhasil dalam ujian tersebut akan muncul jawaban, Tuhan tidak berkehendak. Seolah-olah kita mencoba membesarkan hati dengan mengatasnamakan kehendak Tuhan.

          Saya pernah menonton film series “Lucifer”. Bercerita tentang penguasa bawah sedang berlibur. Dia lelah untuk disalahkan atas semua kesalahan yang dilakukan manusia. Ya seperti aku bilang diatas, kuasa kegelapan sedang menguasai, roh jahat sedang bekerja di hidupku, kalimat-kalimat mistis yang kita gunakan untuk melakukan pembenaran atas kesalahan yang kita buat yang dilakukan secara sadar.


          Maksud ku dari tadi adalah, jika terjadi sesuatu dalam hidup kita, cobalah berfikir bijak dan logis. Jika kebaikan yang terjadi, bersyukurlah. Jika kekurangan yang terjadi, minta untuk menjadi kuat. Jika kita melakukan kejahatan atau dosa, jangan langsung mengatakan atas kuasa si jahat. Minta maaflah, kepada yang tersakiti dan pemilik semesta.